Di Jateng, Aliansi Persatuan Boyolali Tolak Rizieq Shihab




 


BOYOLALI- Seratusan warga yang menamakan diri Aliansi Persatuan Boyolali menggelar aksi damai di Monumen Tiga Menara Boyolali, Rabu (2/12) pagi. Mereka menyatakan menolak keberadaan Rizieg di Kota Susu.


Selama aksi, mereka membawa sejumlah spanduk maupun poster bernada protes. Antara lain berbunyi, Pemecah Belah Seperti Rizieg Shihab dilarang Masuk Boyolali; Katanya panutan kok selalu adu domba umat.


Peserta aksi juga melakukan orasi bergantian yang intinya menolak kehadiran Rizieg. Bahkan, mereka juga sempat membakar poster bergambar Rizieg yang diberi tanda silang. Namun aksi damai tidak berjalan lama karena segera dibubarkan petugas Polres Boyolali.


Koodinator Aksi, Marsudi (40) menyatakan, aksi diikuti oleh seratusan lebih umat Islam. Mereka berasal dari seluruh penjuru wilayah Boyolali. Ada yang berasal dari Boyolali bagian utara, Boyolali bagian selatan, barat hingga timur.


“Merata dari seluruh wilayah Kabupaten Boyolali,” katanya disela- sela aksi.


Pihaknya juga mengecam segala pernyataan Rizieg yang penuh ancaman karena tidak sesuai dengan cerminan umat beragama di Boyolali yang hidup penuh kedamaian. Boyolali juga tidak butuh organisasi yang dipimpin oleh orang yang bersikap intoleran.


“Karena itu, kami mendukung aparatur negara untuk menindak tegas kelompok intoleran demi keutuhan NKRI.”


Namun demikian, aksi tidak berjalan lama karena segera dibubarkan petugas yang dipimpin langsung Kapolres Boyolali, AKBP Rachmad Nur Hidayat. Sempat ada dialog dan peserta aksi meminta waktu 10 menit.


Namun akhirnya, peserta aksi hanya diberi tambahan waktu 2 menit. Hingga kemudian, aksi ditutup dengan pembacaan doa. Setelah itu, peserta aksi membubarkan diri dan membawa serta spanduk dan poster bernada protes.


Ditemui usai aksi, Kapolres Boyolali AKBP Rachmad Nur Hidayat mengaku tidak tahu kalau ada aksi tersebut. Pasalnya, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Sehingga pihaknya langsung datang ke lokasi dan membubarkan aksi tersebut.


“Boyolali dan Jawa Tengah kan masih tinggi tingkat masyarakat ayng terkena Covid-19. Sehingga tidak dibenarkan adanya kerumunan seperti ini,” tegasnya.  (Dwi)

Diberdayakan oleh Blogger.