.
"Gelorakan Ayo Mondok,Merawat Tradisi dan Mencetak Generasi Aswaja.
Karangploso -Malang.Kab.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan maraknya informasi yang kerap menyudutkan lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren kembali menegaskan perannya sebagai pilar utama pembentukan karakter bangsa. Semangat itu menguat melalui Program Nasional Ayo Mondok yang kini diinternalisasikan dalam sistem pendidikan Pondok Pesantren Agama Islam (PPAI) Salafiyah Darun Najah, Karangploso, Kabupaten Malang.
Pesantren yang berlokasi di Dusun Leses, Desa Ngijo tersebut saat ini menampung sekitar 1.500 santri yang tersebar di PPAI Salafiyah Darun Najah I dan II. Ribuan santri itu tidak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga ditempa dengan pendidikan formal, penguasaan bahasa, hingga sains dan teknologi, sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Dewan Pengasuh I PPAI Salafiyah Darun Najah, Gus Masyfu’ Zuhdi, menegaskan bahwa pesantren memiliki akar sejarah yang sangat kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Jauh sebelum kemerdekaan, pesantren telah menjadi pusat perjuangan, pusat pendidikan, sekaligus pusat pembentukan karakter umat,” ungkapnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa belakangan ini pesantren kerap menjadi sasaran framing negatif yang tidak utuh dan cenderung menyamaratakan.
“Yang sering diangkat justru kasus-kasus tertentu seperti asusila atau pornografi. Padahal jika dilihat secara objektif, itu tidak sampai 0,01 persen dari realitas pesantren secara keseluruhan,” tegas Gus Masyfu’.Zuhdi ketika Tim Media Sobo Paran Sowan.
Menurutnya, generalisasi tersebut berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap pesantren, sekaligus menutup mata terhadap kontribusi besarnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari kegelisahan inilah, Gerakan Ayo Mondok hadir sebagai upaya kolektif untuk meluruskan persepsi dan mengembalikan pesantren pada posisi yang semestinya.
“Ayo Mondok bukan sekadar slogan, tetapi ajakan moral agar masyarakat kembali melihat pesantren secara utuh dan adil,” ujarnya.
Pesantren Salafiyah yang Menyatu dengan Pendidikan Modern
PPAI Salafiyah Darun Najah dikenal sebagai pesantren berbasis salafiyah yang tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. Sistem pendidikan yang diterapkan menggabungkan kajian kitab kuning Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah dengan pendidikan formal dan keterampilan praktis.
Beragam program unggulan dijalankan secara berkesinambungan, mulai dari tahsin dan tahfidz Al-Qur’an, program bilingual Bahasa Arab dan Inggris, hingga integrasi sains dan teknologi. Selain itu, pesantren juga menekankan penguatan soft skills dan kemandirian santri melalui madrasah diniyah dan madrasah Qur’aniyah.
Jenjang pendidikan yang tersedia pun lengkap, mulai dari TPQ, MTs, MA, hingga SMP dan SMA formal terintegrasi, sehingga santri mendapatkan pendidikan menyeluruh tanpa harus meninggalkan lingkungan pesantren.
Gus Masyfu’ Zuhdi menilai bahwa pesantren memiliki keunggulan utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter Aswaja dan berketauhidan kuat.
“Pesantren itu membangun manusia secara utuh. Akhlaknya dibina, keilmuannya diperkuat, ketauhidannya ditanamkan. Dari sinilah lahir generasi yang punya dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa,” tuturnya.
Ia menambahkan, santri yang ditempa dalam sistem pesantren diharapkan mampu memberikan kontribusi luas, baik dalam bidang sosial, budaya, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melalui penguatan narasi Ayo Mondok, PPAI Salafiyah Darun Najah berupaya mengajak generasi muda—terutama mereka yang belum mengenal dunia pesantren—untuk kembali menempatkan pendidikan agama sebagai fondasi utama kehidupan.
"Dengan Ayo Mondok, kita ingin generasi mendatang lebih tertata kehidupannya dan lebih mapan agamanya. Pesantren tetap relevan untuk masa depan bangsa,” pungkasnya.
Pesantren, dengan segala tradisi dan pembaruannya, kembali ditegaskan sebagai tonggak sejarah pendidikan nasional—tempat nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan dirajut dalam satu tarikan nafas. (Mid)


