Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Habib Musthofa Alaydrus Tegaskan Ikhtiar Maslahah NU Bukan Sekadar Islah: Demi Persatuan dan Umat

Sabtu, 03 Januari 2026 | Januari 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-02T12:40:39Z

 


Malang, — Habib Musthofa Alaydrus akhirnya membuka secara gamblang proses panjang ikhtiar maslahah yang bergulir di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) dalam beberapa waktu terakhir. Ia menegaskan, dinamika internal NU tidak bisa dipersempit sebagai sekadar islah, melainkan harus dipahami sebagai upaya maslahah yang menyeluruh demi menjaga persatuan jam’iyah dan umat Islam Indonesia.

Penegasan itu disampaikan Habib Musthofa usai kegiatan pengajian di beberapa wilayah, Jumat (2/1/2026).


“Dalam proses ini sering muncul istilah islah dan maslahah. Islah pertama, kedua, hingga ketiga ternyata tidak sepenuhnya bisa diterima oleh semua pihak. Karena itu, saya memaknainya bukan sekadar islah, tetapi ikhtiar maslahah,” tegas Habib Musthofa.


Menurutnya, maslahah yang dimaksud tidak berpihak pada kelompok tertentu, melainkan untuk kepentingan NU secara kelembagaan dan umat Islam secara luas.


“Maslahah untuk semuanya. Maslahah untuk NU dan maslahah untuk umat Islam Indonesia,” ujarnya dengan nada tegas.


Dari Islah Pondok ke Musyawarah Kubro

Habib Musthofa menguraikan, rangkaian ikhtiar tersebut bermula dari islah pertama di Pondok Ploso, dilanjutkan islah kedua di Pondok Tebuireng, hingga upaya islah ketiga yang dikenal sebagai Musyawarah Kubro. Namun, pada tahap terakhir inilah berbagai kendala muncul sehingga pertemuan yang diharapkan belum dapat terlaksana.


Ia mengungkapkan, dalam Musyawarah Kubro tersebut, KH Miftachul Akhyar sejatinya telah menyatakan kesiapan untuk hadir. Hal itu disampaikan langsung melalui komunikasi pribadi.


Pada Ahad pagi sekitar pukul 06.30, Kiai Miftah menelepon Habib Musthofa. Malam sebelumnya, Habib Musthofa menghadiri ceramah di Denanyar—pondok peninggalan KH Bisri Syansuri—bersama KH Said Aqil Siradj, sementara Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin berhalangan hadir.


“Setelah itu saya melanjutkan agenda ke Kediri bersama Habib Muhammad bin Tahir Qabud dan bermalam di hotel,” tuturnya.


Menjadi Penghubung, Bukan Pendamai

Keesokan harinya, Habib Musthofa kembali menerima telepon dari KH Miftachul Akhyar, yang saat ini menjabat Rais ‘Aam PBNU, menyatakan niat dan kesiapan untuk hadir.


Informasi tersebut kemudian ia sampaikan kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dengan harapan pertemuan dapat terwujud demi kemaslahatan bersama.


“Saya diminta menjadi penyambung komunikasi. Karena Kiai Miftah cukup akrab dengan saya, dan Gus Yahya juga masih memiliki hubungan keluarga dengan istri saya,” jelasnya.


Namun, Habib Musthofa menegaskan dirinya tidak pernah memosisikan diri sebagai pendamai.


“Saya bukan pendamai. Pendamai itu adalah seluruh warga NU. Doa orang banyak itulah penopangnya. Saya hanya membantu menyambungkan komunikasi agar pertemuan bisa terjadi demi maslahah,” katanya.


Wacana MLB dan Konsekuensinya

Gagalnya pertemuan tersebut kemudian memunculkan berbagai wacana, termasuk Muktamar Luar Biasa (MLB). Habib Musthofa menilai, MLB bukan agenda ringan karena memiliki konsekuensi besar bagi organisasi.


Ia menegaskan, baik Gus Yahya maupun Kiai Miftah sejatinya tidak menghendaki MLB. Namun, karena pertemuan belum terwujud dan dinamika berkembang ke berbagai arah, situasi dibiarkan mengalir dengan tenggat waktu tertentu sebelum akhirnya ia kembali ke rumah.


Sepulangnya, sejumlah kiai kembali mendatanginya dan berharap ikhtiar pertemuan tetap dilanjutkan. Meski tidak mudah, Habib Musthofa menegaskan jalan maslahah tetap harus dicari.


Habib Musthofa kemudian bertolak ke Surabaya dan bertemu tim Kiai Miftah. Diskusi intens dilakukan, mulai dari mekanisme undangan hingga kepastian kehadiran Gus Yahya.


“Saya sampaikan, jika undangan datang dari kami, saya siap menjadi jaminannya demi maslahah bersama,” ungkapnya.


Sejumlah lokasi sempat dipertimbangkan, mulai dari Bangkalan, Pasuruan, Lirboyo, Kaliwungu, Ploso, hingga Tebuireng. Setelah melalui musyawarah panjang, disepakati Kaliwungu sebagai lokasi pertemuan, yang kemudian dialihkan ke Pondok Suci Mamba’us Sholihin, milik KH Bukhori.


Proses musyawarah berlangsung intens sejak Minggu hingga Rabu, bahkan hingga dini hari. Salah satu poin penting yang disepakati adalah redaksi undangan harus menggunakan bahasa santun dan tidak menyinggung pihak mana pun.


Dalam perkembangan selanjutnya, muncul permintaan agar lokasi pertemuan dipindahkan ke Lirboyo dan waktu diubah menjadi pukul 10.00 WIB. Menurut Habib Musthofa, perubahan tersebut murni penyesuaian jadwal, bukan penolakan.

“Di Pondok Ploso pukul 14.00 sudah ada agenda Bani Baidhowi. Jadi ini penyesuaian, bukan penolakan,” tegasnya.


Kesepakatan akhirnya dicapai: pertemuan dijadwalkan Kamis pukul 10.00 WIB, dan seluruh pihak menyatakan persetujuan.

Tegaskan Komitmen untuk NU

Menutup keterangannya, Habib Musthofa kembali menegaskan bahwa seluruh ikhtiar yang ia lakukan semata-mata untuk menjaga kemaslahatan NU dan persatuan umat.


“Saya hanya berusaha menyambungkan komunikasi. Selebihnya, maslahah ini adalah kehendak Allah yang ditopang doa warga NU,” pungkasnya.