Tumpang -Malang.
Hebat dan patut di acungi jempo satu satunya Sekolah Menengah Atas (SMA) yang memiliki keunggulan dan kemampuan di bidang usaha Roti.
melalui unit usaha siswa di SMA Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang, di mana lewat hasil karya nyatanya sudah menunjukkan terobosan menarik dengan menghadirkan produk roti tawar berbahan dasar kentang. Produk ini tidak hanya menjadi bagian dari praktik kewirausahaan sekolah, tetapi juga diarahkan sebagai alternatif makanan untuk program diet tanpa gula (no sugar).
Gagasan tersebut muncul dari pengalaman pelatihan yang diikuti di lingkungan rumah, lalu dikembangkan menjadi inovasi produk unggulan sekolah. Potensi lokal menjadi pertimbangan utama, mengingat wilayah Tumpang dikenal sebagai daerah pertanian dengan hasil kentang yang melimpah.
Salah satu siswa penggagas, Arifah Alvionita, menyampaikan bahwa ide ini lahir dari proses eksplorasi yang cukup panjang.
“Awalnya dari pelatihan di rumah, kemudian kami mencoba berinovasi mencari produk unggulan untuk SMAN 1 Tumpang. Akhirnya terpikir membuat roti tawar dari kentang karena bahan bakunya banyak tersedia di daerah kami,” ujarnya kepada Wartawan.tgl 29-4-2026.
Dalam proses produksinya, roti dibuat dengan tahapan yang cukup terstruktur, mulai dari penimbangan bahan hingga pengembangan adonan.
“Pertama bahan ditimbang sesuai resep, lalu dimasukkan ke mixer sampai adonan kalis dan elastis. Setelah itu dibagi menjadi beberapa bagian, kemudian dimasukkan ke alat untuk proses pengembangan adonan sebelum dipanggang,” jelas Arifah.
Saat ini, produk yang dihasilkan masih berupa satu varian roti tawar kentang. Namun, tim pengembang telah merencanakan inovasi lanjutan untuk memperkaya pilihan rasa.
“Untuk sekarang masih satu varian, tapi ke depan kami ingin menambah inovasi, misalnya dengan isian selai atau olahan lain dari roti kentang,” tambahnya.
Produk roti ini juga mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Sejumlah pesanan datang dari instansi pemerintah, kegiatan organisasi, sampa ibu Emil dardak Wagub langganan roti ini kami.
Alhamdulillah dalam waktu dekat, kami harus memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
“Kami mendapat pesanan sekitar 2.200 roti untuk peringatan Hari Pendidikan Nasional. Rencananya akan digunakan dalam acara di Grahadi Surabaya,” ungkapnya.
Meski demikian, proses produksi tidak lepas dari tantangan, terutama terkait keterbatasan waktu dan fasilitas.
“Tantangannya lebih ke waktu produksi yang cukup mepet, apalagi kami juga masih menyesuaikan dengan aktivitas sekolah. Selain itu, tempat produksi juga masih terbatas,” jelas Arifah.
Melalui inovasi ini, SMAN 1 Tumpang tidak hanya mendorong kreativitas siswa, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan, katanya. (Tim)




